Headlines News :
Home » » Ketika Kedua Negera Ini "Ber Izzah" Dengan Demokrasi

Ketika Kedua Negera Ini "Ber Izzah" Dengan Demokrasi

Written By Unknown on Kamis, 11 April 2013 | 19.14

Ketika Turki ber-'Izzah dengan Demokrasi

By: Nandang Burhanudin
***

Perhatikan foto seragam Ronaldo di atas. Ada sesuatu yang hilang bukan? Yang hilang itu adalah: gambar sponsor yang menempel di dada seragam Real Madrid: BWIN, yaitu perusahaan judi daring, minuman keras, dan bisnis sperma (seks).

Saat bermain away melawan klub Galatasaray Turki, Real Madrid menggunakan jersey away tanpa mencantumkan sponsor utamanya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Karena UU negara Turki yang melarang sponsor judi.

Pada awalnya, UU Turki tersebut banyak penentangan dan protes dari UE. Namun secara berangsur, ketika pemerintah Turki yang dipimpin faksi Islam Erdogan sukses membangun basis ekonomi-militer yang mapan dan kokoh, Turki tampil meyakinkan dan berani menghadapi penentangan. FIFA-UEFA pun tak kuasa selain mematuhi aturan tersebut. Hal yang tak akan kita temukan di negara-negara ARAB, terlebih Indonesia.

Identitas Islam mulai dihadirkan oleh Erdogan. Bahkan ia terang-terangan mendeklarasikan keislaman dan tawajjuh Islaminya.

***

Sahabat, perjuangan muslim dan gerakan Islam di Turki patut dijadikan 'ibroh bagi kita di Indonesia. Islam tak bisa diperjuangkan dengan syahwat, syubuhat, apalagi isu-isu sesat. Untuk perjuangan yang sesat menyesatkan, hal jamak dan lumrah kita tolak. Namun perjuangan dengan dasar syahwat, perlu kita perhatikan secara cermat. Ia adalah perjuangan ketika Islam hanya dijadikan jualan politik tanpa pernah dijadikan sebagai tawajjuh (visi besar) perjuangan. Islam tidak menyentuh esensi ajaran Islam (maqashid syari'ah) yaitu: menjaga agama, harta, kehormatan, jiwa, dan entitas manusia.

Perjuangan dengan syubuhat, ketika yang muncul hanya propaganda-propaganda ilutif yang jauh dari kenyataan dan tidak realistis dipraktikkan. Perjuangan syubuhat diisukan dalam dakwah Wali Songo. Cerita-cerita yang digambarkan adalah kesaktian dan karomah. Walaupun mungkin jaman wali itu ada dan terjadi, namun sangat tidak tepat jika perjuangan Islam saat ini menonjolkan sisi-sisi mistis belaka. Demikian juga dengan klaim-klaim megalomania yang justru mengkerdilkan Islam, Al-Qur'an, dan Nabi Muhammad itu sendiri. Klaim-klaim megalomania yang bombastis di tataran teori, namun miskin karya nyata dan tidak ada bukti di tataran aksi, menjadi ilutif terkini di abad 21.

Turki di era Erdogan, terbukti ampun menyelesaikan beragam persoalan yang saat ini mendera dunia. Mereka berjuang nyaris tanpa hiruk pikuk spanduk-konferensi-atau kampanye-kampanye megalomania ilutif. Mereka berbuat di tataran nyata, tidak cepat memang, namun terbukti efektif dan nyaris tanpa pertumpahan darah.

Umat menunggu bukti. Mereka kenyang dengan janji dan tak peduli pada ilusi. ***

Mesir Ber-'Izzah dengan Demokrasi

Demokrasi itu baru memberi manfaat untuk siapa saja yang baru mengakhiri kejahilan dalam dirinya. Namun demokrasi yang diberikan kepada orang jahil, tak ubahnya memberikan senjata kepada orang gila.

Perhatikan foto berikut! Kita akan terbelalak. Siapakah yang difoto bersama keledai dan masih "kumuh" sebagai petani biasa? Ya, ia adalahnya kakak kandung Presiden Moursi. Jelas sudah, Moursi tidak pernah memanfaatkan kekuasaannya untuk memperkaya diri atau "abuse of power" demi memaksakan anggota keluarganya menjadi "PENIKMAT DEMOKRASI". Moursi mendedikasikan hidupnya, benar-benar untuk kejayaan Islam dan umat Islam.
Sekedar informasi, DR. Ahmad Emara menyampaikan prestasi Moursi dalam seminggu, 3-10 April. Hasil jaulah (jelajah) dan safari politiknya ke luar negeri menghasilkan kesepakatan-kesepakatan berikut:

1. Qatar menghibahkan 3 Milyar Dollar, menggratiskan 2 juta Gaz Elpiji, dan membatalkan jaminan bagi perusahaan-perusahaan Mesir yang bergerak di bidang pertambangan di Qatar.

2. Sudan menyediakan 1500 hektar lahan gandum untuk swasembada gandum di Mesir.

3. Presiden Turki melakukan opening ceremony di Kawasan Industri Turki di Mesir.

4. Pemerintah Libya menyetujui untuk menitipkan 2 Milyar Dollar AS di Bank Central Mesir, sebagai wadi'ah.

5. Kepala Staf Gabungan Bersenjata Mesir dilantik menjadi penasihat militer Libya, dalam rangka membentuk kembali militer Libya.


Semua prestasi itu bak lenyap di telan bumi, terutama tidak diberitakan di media-media yang dikuasai oleh kaum sekuler-liberal-muslim ambigu. Jadi ternyata demokrasi di tangan orang-orang shalih yang berjiwa besar, terbukti ampuh untuk mengantarkan kekuasaan yang diraihnya dalam membangun masyarakat berkeadilan. 
sumber : pkspiyungan.org & pkskotacirebon.org
Share this post :

Posting Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Sepenggal Firdaus - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger