REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO -- Ikhwanul Muslimin menyerukan kembali
protes massal dalam kampanye melawan penggulingan Presiden Muhammad
Mursi. Namun, mereka memberi tanda pertama kesediaan untuk bernegosiasi
dengan lawan-lawannya.
Ikhwanul Muslimin dan sekutunya yang tergabung dalam Aliansi Nasional
untuk Legitimasi mendesak demonstrasi nasional pada Jumat (19/7) ini.
Diprediksi, jutaan orang akan turun ke jalan.
Sementara itu, militer Mesir mengeluarkan peringatan keras terhadap
kekerasan. Presiden interim, Adly Mansour, mengatakan dia akan
melindungi negara dari mereka yang mencari kekacauan.
Dalam laporan Al-Jazeera, demo massal tersebut menunjukkan pendukung Mursi menolak menerima pemerintahan baru yang didukung militer.
"Untuk setiap orang Mesir yang bebas, pria dan wanita: ayo keluar
terhadap kudeta militer berdasar," kata aliansi tersebut dalam sebuah
pernyataan.
Juru bicara Ikhwanul, Gehad el-Haddad, mengatakan organisasi tidak akan mundur dari tuntutannya untuk mengembalikan Mursi.
Militer membantah telah mengatur kudeta. Mereka mengatakan mengintervensi untuk mencegah kekerasan pada protes 30 Juni.
Sedikitnya 99 orang tewas di jalan sejak Mursi digulingkan. Setengah
dari jumlah itu tewas ketika tentara menembak pendemo di luar sebuah
barak di Kairo pada 8 Juli.


Posting Komentar