By: Nandang Burhanudin
*****
Mesir dan Indonesia, dua negara yang memiliki hubungan sejarah yang
kuat. Mesir bukan hanya menjadi negara yang pertama kali mengakui
kemerdekaan Indonesia. Mesir juga menjadi ibu asuh bagi ratusan ribu
pelajar/mahasiswa Indonesia. Adapun Indonesia. Negeri mayoritas Muslim.
Oleh karena itu, toleransi masih terjaga. Seandainya umat Islam sudah 50:50, dipastikan tragedi-tragedi dunia berupa pembantaian muslim, akan terjadi juga di Indonesia. *****
Kini 2 saudara ini tengah sakit. Dua negara "dibuat" tergantung dengan hutang dan bantuan asing. Ekonomi dikuasai minoritas. SDA disedot asing. Gas alam Mesir dicuri Israel. Sedang di Indonesia dicuri Singapore-China. Emas dicuri AS. Mesir pun sama, asset-asset nasional sudah dimiliki Emirat Arab.
Ternyata, selama 200 tahun, Mesir mengalami perubahan sejarah. Dimulai dari Muhammad Ali Pasha. Bapak sekuler Mesir yang telah memaksakan Mesir menjadi negara sekuler-militer. Mesir secara de facto diserahkan kepada negara-negara Barat-Kristen. Sejak 1841 Mesir dikomando Paris. Kemudian tahun 1954 dikomando Inggris (London). Lalu 1961 berkiblat ke AS (Washinton). Tak lama berselang diserahkan kepada Moskow (Russia) tahun 1973. Akhirnya di era Mubarak, Mesir berkiblat penuh kepada Washinton tahun 1981 hingga 2011. Hanya 1 tahun saja, Mesir "merdeka" dan terbebas dari komando pihak asing. Satu tahun itulah, saat Presiden Mursi dari Ikhwanul Muslimin berkuasa. Kini Mesir kembali dikomando Tel Aviv, Washinton, Dubai dan Riyadh.
Adapun Indonesia, sejak era Soekarno sudah berkiblat ke Moskow, Peking. Di era Soeharto, kiblatnya adalah AS. Tak ada satupun kebijakan, melainkan harus mendapat restu dari AS. Maka ketika Pak Harto mulai menggeser arah, AS langsung menggerakkan reformasi di Indonesia. Hingga kini Indonesia menjadi negara yang manajemen dan tuannya, tak lepas dari Jepang, AS, China.
Pertanyaannya, apakah Pemilu 2014, umat Islam rela menyerahkan Indonesia kepada pihak yang lebih berbahaya? Yaitu Freemasonry, Rotary, Syi'ah, Ahmadiyah? Atauhkah umat Islam akan bangkit bahu membahu seluruh suku-agama untuk menjadikan Indonesia negeri yang proporsional dan adil sejahtera? Atauhkah elemen-elemen Islam bersatu, mengoreksi yang salah dan fokus menghadapi musuh besar bersama? Atau malah tetap dengan ego masing-masing. Tetap sibuk menghajar partai-partai Islam (PKS-PBB-PPP)? Ini PR yang harus sama-sama kita sadari. Karena kita tak mungkin membangun Indonesia sendirian. Jangan sampai HTI-Salafy sibuk menawarkan konsep, namun di sisi lain tak berhenti menyiram cuka atas luka saudaranya sendiri. Itu pun jika bersaudara dan perjuangannya memang "murni" untuk kemajuan Islam! Entah kalau ada agenda lain, yaitu menuruti komando dari luar juga, seperti halnya sikap Salafy-HT di Mesir!
Sadarkah kita, Indonesia dalam bahaya!



Posting Komentar