Karena
sudah mulainya sebagian umat Islam melaksanakan shalat sunnat Istisqa,
mudah-mudahan, bahan berikut ini bisa bermanfaat...
SHALAT SUNNAT ISTISQA
Istisqa artinya meminta hujan. Dalam kamus Lisaanul ‘Arab disebutkan:
ذكر الاستسقاء في الحديث، وهو استفعال من طلب السقيا: أي إنزال الغيث على البلاد والعباد
“Istisqa disebutkan dalam hadits. Arti istisqa adalah permohonan
meminta as saqa, yaitu diturunkannya hujan kepada sebuah negeri atau
kepada orang-orang”
Namun di kalangan ahli fiqih, sudah dipahami
jika disebut shalat istisqa, yang dimaksud adalah permohonan
diturunkannya hujan kepada Allah, bukan kepada makhluk.
Hukum Shalat Istisqa
Shalat istisqa hukumnya sunnah muakkadah (sangat ditekankan) ketika
terjadi musim kering, karena Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
memerintahkan hal tersebut, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah
Radhiallahu’anha:
شكا الناس إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم قحوط
المطر فأمر بمنبر فوضع له في المصلى ووعد الناس يوما يخرجون فيه قالت عائشة
فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس فقعد على المنبر
فكبر صلى الله عليه وسلم وحمد الله عز وجل ثم قال إنكم شكوتم جدب دياركم
واستئخار المطر عن إبان زمانه عنكم وقد أمركم الله عز وجل أن تدعوه ووعدكم
أن يستجيب لكم ثم قال ( الحمد لله رب العالمين الرحمن الرحيم ملك يوم الدين
) لا إله إلا الله يفعل ما يريد اللهم أنت الله لا إله إلا أنت الغني ونحن
الفقراء أنزل علينا الغيث واجعل ما أنزلت لنا قوة وبلاغا إلى حين ثم رفع
يديه فلم يزل في الرفع حتى بدا بياض إبطيه ثم حول إلى الناس ظهره وقلب أو
حول رداءه وهو رافع يديه ثم أقبل على الناس ونزل فصلى ركعتين فأنشأ الله
سحابة فرعدت وبرقت ثم أمطرت بإذن الله فلم يأت مسجده حتى سالت السيول فلما
رأى سرعتهم إلى الكن ضحك صلى الله عليه وسلم حتى بدت نواجذه فقال أشهد أن
الله على كل شيء قدير وأني عبد الله ورسوله
“Orang-orang mengadu
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang musim kemarau
yang panjang. Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di
tempat tanah lapang, lalu beliau membuat kesepakatan dengan orang-orang
untuk berkumpul pada suatu hari yang telah ditentukan”. Aisyah lalu
berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ketika matahari
mulai terlihat, lalu beliau duduk di mimbar. Beliau shallallahu ‘alaihi
wasallam bertakbir dan memuji Allah Azza wa Jalla, lalu bersabda,
“Sesungguhnya kalian mengadu kepadaku tentang kegersangan negeri kalian
dan hujan yang tidak kunjung turun, padahal Allah Azza Wa Jalla telah
memerintahkan kalian untuk berdoa kepada-Nya dan Ia berjanji akan
mengabulkan doa kalian” Kemudian beliau mengucapkan: “Segala puji bagi
Allah, Rabb semesta alam, Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Yang
menguasai hari Pembalasan. (QS. Al-Fatihah: 2-4). laa ilaha illallahu
yaf’alu maa yuriid. allahumma antallahu laa ilaha illa antal ghaniyyu wa
nahnul fuqara`. anzil alainal ghaitsa waj’al maa anzalta lanaa quwwatan
wa balaghan ilaa hiin (Tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali
Dia, Dia melakukan apa saja yang dikehendaki. Ya Allah, Engkau adalah
Allah, tidak ada sembahan yang berhak disembah kecuali Engkau Yang Maha
kaya sementara kami yang membutuhkan. Maka turunkanlah hujan kepada kami
dan jadikanlah apa yang telah Engkau turunkan sebagai kekuatan bagi
kami dan sebagai bekal di hari yang di tetapkan).” Kemudian beliau terus
mengangkat kedua tangannya hingga terlihat putihnya ketiak beliau.
Kemudian beliau membalikkan punggungnya, membelakangi orang-orang dan
membalik posisi selendangnya, ketika itu beliau masih mengangkat kedua
tangannya. Kemudian beliau menghadap ke orang-orang, lalu beliau turun
dari mimbar dan shalat dua raka’at. Lalu Allah mendatangkan awan yang
disertai guruh dan petir. Turunlah hujan dengan izin Allah. Beliau tidak
kembali menuju masjid sampai air bah mengalir di sekitarnya. Ketika
beliau melihat orang-orang berdesak-desakan mencari tempat berteduh,
beliau tertawa hingga terlihat gigi gerahamnya, lalu bersabda: “Aku
bersaksi bahwa Allah adalah Maha kuasa atas segala sesuatu dan aku
adalah hamba dan Rasul-Nya” (HR. Abu Daud no.1173, dishahihkan Al Albani
dalam Shahih Abi Daud)
Ibnu ‘Abdil
Barr berkata: “Para ulama telah ber-’ijma bahwa keluar beramai-ramai
untuk shalat istisqa di luar daerah dengan doa dan memohon kepada Allah
untuk menurunkan hujan ketika musim kemaran dan kekeringan melanda
hukumnya adalah sunnah, yang telah disunnahkan oleh Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam tanpa ada perbedaan pendapat diantara para
ulama dalam hal ini”
Penyebab Terjadinya Kekeringan
Sebab
terjadinya kekeringan yang berkepanjangan, bencana alam serta
musibah-musibah lain secara umum adalah maksiat. Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari
kesalahan-kesalahanmu)” (QS. Asy Syuraa: 30)
Selain merebaknya
maksiat secara umum, banyaknya orang yang enggan membayar zakat serta
banyak kecurangan dalam jual beli, menjadi penyebab khusus atas
terjadinya kekeringan dan masa-masa sulit.
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
يا معشر المهاجرين: خمس إذا ابتليتم بهن وأعوذ بالله أن تدركوهن: لم تظهر
الفاحشة في قوم قطُّ حتى يعلنوا بها إلاَّ فشا فيهم الطاعونُ والأوجاعُ
التي لم تكن مضت في أسلافهم الذين مَضَوا.ولم ينقصوا المكيال والميزان إلا
أُخذوا بالسنين وشدة المؤونة وجَوْر السلطان عليهم. ولم يَمْنعوا زكاة
أموالهم إلا مُنعوا القطرَ من السماء، ولولا البهائمُ لم يُمطروا. ولم
ينقضوا عهد الله وعهد رسوله إلا سلّط الله عليهم عدوًّا من غيرهم فأخذوا
بعض ما في أيديهم. وما لم تحكم أئمتهم بكتاب الله ويتخيروا مما أنزل الله
إلا جعل الله بأسهم بينهم
“Wahai sekalian kaum muhajirin, kalian akan diuji dengan lima perkara dan aku memohon perlindungan Allah agar kalian tidak ditimpa hal-hal tersebut.
1. Ketika perbuatan keji
merajalela di tengah-tengah kaum hingga mereka berani terang-terangan
melakukannya, akan menyebar penyakit menular dan kelaparan yang belum
pernah mereka alami sebelumnya.
2. Ketika orang-orang gemar
mencurangi timbangan, akan ada tahun-tahun yang menjadi masa sulit bagi
kaum muslimin dan penguasa berbuat jahat kepada mereka
3. Ketika
orang-orang enggan membayar zakat, air hujan akan ditahan dari langit.
Andaikata bukan karena hewan-hewan ternak, niscaya hujan tidak akan
pernah turun.
4. Ketika orang-orang mengingkari janji terhadap Allah
dan Rasul-Nya, Allah akan menjadikan musuh dari selain mereka berkuasa
atas mereka, kemudian mengambil sebagian apa yang ada di tangan mereka,
5. Ketika para penguasa tidak berhukum dengan Kitab Allah dan mereka
memilih selain dari apa yang diturunkan oleh Allah, Allah akan
menjadikan kehancuran mereka dari diri mereka sendiri”
(HR. Ibnu Maajah no.3262. Dihasankan oleh Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah)
Beberapa Jenis Istisqa Kepada Allah-Lasemohon kepada Allah agar diturunkan hujan berdasarkan apa yang ditetapkan oleh syari’at, dapat dilakukan dengan beberapa cara:
Pertama, shalat istisqa secara berjama’ah ataupun sendirian5.
Kedua, imam shalat Jum’at memohon kepada Allah agar diturunkan hujan
dalam khutbahnya. Para ulama ber-ijma’ bahwa hal ini disunnahkan
senantiasa diamalkan oleh kaum muslimin sejak dahulu.
Hal ini dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam, sebagaimana diceritakan sahabat Anas Bin Malik Radhiallahu’anhu:
أن رجلا دخل المسجد يوم الجمعة ، من باب كان نحو دار القضاء ، ورسول الله
صلى الله عليه وسلم قائم يخطب ، فاستقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم
قائما ، ثم قال : يا رسول الله ، هلكت الأموال وانقطعت السبل ، فادع الله
يغثنا . فرفع رسول الله صلى الله عليه وسلم يديه ، ثم قال :اللهم أغثنا،
اللهم أغثنا، اللهم أغثنا . قال أنس : ولا والله ، ما نرى في السماء من
سحاب ، ولا قزعة ، وما بيننا وبين سلع من بيت ولا دار . قال : فطلعت من
ورائه سحابة مثل الترس ، فلما توسطت السماء انتشرت ثم أمطرت . فلا والله ما
رأينا الشمس ستا
“Seorang lelaku memasuki masjid pada hari jum’at
melalui pintu yang searah dengan daarul qadha. Ketika itu Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam sedang berkhutbah dengan posisi berdiri.
Lelaki tadi berkata: ‘Wahai Rasulullah, harta-harta telah binasa dan
jalan-jalan terputus (banyak orang kelaparan dan kehausan). Mintalah
kepada Allah agar menurunkan hujan!’. Rasulullah Shallallahu’alaihi
Wasallam lalu mengangkat kedua tangannya dan mengucapkan: Allahumma
aghitsna (3x). Anas berkata: ‘Demi Allah, sebelum itu kami tidak melihat
sedikitpun awan tebal maupun yang tipis. Awan-awan juga tidak ada di
antara tempat kami, di bukit, rumah-rumah atau satu bangunan pun”. Anas
berkata, “Tapi tiba-tiba dari bukit tampaklah awan bagaikan perisai.
Ketika sudah membumbung sampai ke tengah langit, awan pun menyebar dan
hujan pun turun”. Anas melanjutkan, “Demi Allah, sungguh kami tidak
melihat matahari selama enam hari’” (HR. Bukhari no.1014, Muslim no.897)
Ketiga, berdoa setelah shalat atau berdoa sendirian tanpa didahului shalat. Para ulama ber-’ijma akan bolehnya hal ini.
Tempat Shalat Istisqa
Shalat istisqa lebih utama dilakukan di lapangan, sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha disebutkan:
فأمر بمنبر فوضع له في المصلى
“Lalu beliau memerintahkan untuk meletakkan mimbar di tempat tanah lapang”
Juga dalam hadits Abdullah bin Zaid Al Mazini:
أن النبي صلى الله عليه وسلم خرج إلى المصلى ، فاستسقى فاستقبل القبلة ، وقلب رداءه ، وصلى ركعتين
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar menuju lapangan. Beliau
meminta hujan kepada Allah dengan menghadap kiblat, kemudian membalikan
posisi selendangnya, lalu shalat 2 rakaat” (HR. Bukhari no. 1024)
Namun boleh melakukannya di masjid, sebagaimana yang disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani8 :
قوله : ( باب الاستسقاء في المسجد الجامع ) أشار بهذه الترجمة إلى أن الخروج إلى المصلى ليس بشرط في الاستسقاء
“Perkataan Imam Al Bukhari: ‘Bab Shalat Istisqa di Masjid Jami‘,
menunjukkan tafsiran beliau bahwa keluar menuju lapangan bukanlah syarat
sah shalat istisqa”
Waktu Pelaksanaan Shalat Istisqa
Shalat istisqa tidak memiliki waktu khusus namun terlarang dikerjakan di
waktu-waktu terlarang untuk shalat. Akan tetapi yang lebih utama adalah
sebagaimana waktu pelaksanaan shalat ‘Id, yaitu ketika matahari mulai
terlihat. Sebagaimana dalam hadits ‘Aisyah Radhiallahu’anha disebutkan:
فخرج رسول الله صلى الله عليه وسلم حين بدا حاجب الشمس
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam keluar ketika matahari mulai terlihat”
Tata Cara Shalat Istisqa
Para ulama berbeda pendapat mengenai tata cara shalat istisqa. Ada dua pendapat dalam masalah ini:
Pendapat pertama, tata cara shalat istisqa adalah sebagaimana shalat
‘Id. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits Ibnu ‘Abbas Radhiallahu’anhu:
إن رسول الله صلى الله عليه وسلم خرج متبذلا متواضعا متضرعا حتى أتى
المصلى فلم يخطب خطبتكم هذه ، ولكن لم يزل في الدعاء ، والتضرع ، والتكبير ،
وصلى ركعتين كما كان يصلي في العيد
“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa
salam berjalan menuju tempat shalat dengan penuh ketundukan, tawadhu’,
dan kerendahan hati hingga tiba di tempat shalat. Lalu beliau berkhutbah
tidak sebagaimana biasanya, melainkan beliau tidak henti-hentinya
berdoa, merendah, bertakbir dan melaksanakan shalat dua raka’at
sebagaimana beliau melakukan shalat ‘Id” (HR. Tirmidzi no.558, ia
berkata: “Hadits hasan shahih”)
Tata caranya sama dengan shalat
‘Id dalam jumlah rakaat, tempat pelaksanaan, jumlah takbir, jahr dalam
bacaan dan bolehnya khutbah setelah shalat. Ini adalah pendapat
mayoritas ulama diantaranya Sa’id bin Musayyab, ‘Umar bin Abdil Aziz,
Ibnu Hazm, dan Imam Asy Syafi’i.
Hanya saja berbeda dengan shalat ‘Id dalam beberapa hal:
1. Hukum. Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata:
“Namun shalat istisqa berbeda dengan shalat ‘Id dalam hal hukum shalat
Istisqa adalah sunnah, sedangkan shalat ‘Id adalah fardhu kifayah”.
Sebagian ulama muhaqqiqin juga menguatkan hukum shalat ‘Id adalah fardhu
‘ain.
2. Waktu pelaksanaan. Sebagaimana telah dijelaskan.
Pendapat kedua, tata cara shalat istisqa adalah sebagaimana shalat
sunnah biasa, yaitu sebanyak dua rakaat tanpa ada tambahan takbir. Hal
ini didasari hadits dari Abdullah bin Zaid:
خرج النبي - صلى الله عليه وسلم - إلى المصلى فاستقبل القبلة وحول رداءه، وصلى ركعتين
“Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam keluar menuju lapangan. Beliau
meminta hujan kepada Allah dengan menghadap kiblat, kemudian membalikan
posisi selendangnya, lalu shalat 2 rakaat” (HR. Bukhari no.1024, Muslim
no.894).
Zhahir hadits ini menunjukkan shalat istisqa sebagaimana
shalat sunnah biasa, tidak adanya takbir tambahan. Ini adalah pendapat
Imam Malik, Al Auza’i, Abu Tsaur, dan Ishaq bin Rahawaih.
Ibnu
Qudamah Al Maqdisi setelah menjelaskan dua tata cara ini beliau
mengatakan : “Mengerjakan yang mana saja dari dua cara ini adalah boleh
dan baik”.
Doa Istisqo :
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ
اَلْعَالَمِينَ, اَلرَّحْمَنِ اَلرَّحِيمِ, مَالِكِ يَوْمِ اَلدِّينِ, لَا
إِلَهَ إِلَّا اَللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ
اَللَّهُ, لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ, أَنْتَ اَلْغَنِيُّ وَنَحْنُ
اَلْفُقَرَاءُ, أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ, وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ
قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ
اللَّهُمَّ اسْقِنَا اللَّهُمَّ
اسْقِنَا اللَّهُمَّ اسْقِنَا, اللَّهُمَّ اسْقِنا غَيْثاً مُغِيثاً
هَنِيئاً مَرِيئاً غَدَقاً مُجَلِّلاً سَحّاً عامّاً طَبَقاً دَائِماً؛
اللَّهُمَّ على الظِّرَابِ وَمَنابِتِ الشَّجَرِ، وَبُطُونِ الأوْدِيَةِ؛
اللَّهُمَّ إنَّا نَسْتَغْفِرُكَ إِنَّكَ كُنْتَ غَفّاراً، فأرْسلِ
السَّماءَ عَلَيْنا مِدْرَاراً؛ اللَّهُمَّ اسْقِنا الغَيْثَ وَلا
تَجْعَلْنا مِنَ القَانِطِينَ. اللهم إنَّ بِالعِبادِ والبِلادِ والبهائم
والخلق من اللأواء والجهد والضنك ما لا نشكوه إلا إليك. اللَّهُمَّ
أنْبِتْ لَنا الزَّرْعَ، وَأدِرَّ لَنا الضَّرْعَ، وَاسْقِنا مِنْ بَرَكاتِ
السَّماءِ، وأنْبِتْ لَنا مِنْ بَرَكاتِ الأرْضِ؛ اللَّهُمَّ ارْفَعْ
عَنَّا الجَهْدَ وَالجُوعَ والعُرْيَ، واكْشِفْ عَنَّا مِنَ البَلاءِ ما لا
يَكْشِفُهُ غَيْرُكَ
اللهم اسقنا الغيثَ وانصرنا على الأعداء. اللهم
أنت أمرتنا بدعائك ووعدتنا إجابتك، وقد دعوناك كما أمرتنا فأجبنا كما
وعدتنا، اللهم امنن علينا بمغفرة ما قارفنا، وإجابتك في سقيانا، وسعة
رزقنا.
Segala puji bagi Allah Rabbul ‘alamin yang Maha Pengasih lagi
Maha Penyayang, yang merajai hari pembalasan, tidak ada Tuhan selain
Allah yang melakukan apa yang Ia kehendaki, ya Allah Engkaulah Allah
tidak ada Tuhan selain Engkau, Engkau Mahakaya dan kami orang-orang
fakir, turunkanlah pada kami hujan, dan jadikan apa yang Engkau turunkan
sebagai kekuatan dan bekal hingga suatu batas yang lama.
Ya Allah,
turunkan bagi kami hujan 3x, Ya Allah, turunkan bagi kami hujan yang
menyuburkan, menyejahterakan, bermanfaat, mengalir dari atas ke bawah
merata, dan terus-menerus kebaikannya bagi negeri dan penghuninya. Ya
Allah pada pegunungan, sawah ladang dan danau-danau. Ya Allah kami
beristighfar kepada-Mu, sesungguhnya Engkau penerima ampun, turunkan
kepada hujan dari langit yang terus menerus memberikan kebaikan. Ya
Allah turunkanlah hujan dan jangan jadikan kami termasuk orang-orang
yang putus asa. Ya Allah negeri dan penduduknya mengalami kesulitan,
kesengsaraan, kesempitan dan kami tidak mengadu kecuali kepada-Mu. Ya
Allah tumbuhkanlah bagi kami tanaman, suburkanlah susu-sus ternak kami,
turunkanlah hujan dari keberkahan langit dan tumbuhkanlah tanaman dari
keberkahan bumi. Ya Allah angkatlah dari kami kesusahan, kelaparan, dan
terbukanya aurat, singkapkan dari kami musibah dan tidak ada yang dapat
menyingkapkannya kecuali Engkau
Ya Allah turunkanlah hujan dan
tolonglah kami atas musuh. Ya Allah Engkau telah memerintahkan kami
untuk berdoa, dan berjanji untuk mengabulkan. Dan kami telah berdoa
sebagaimana engkau perintahkan, maka kabulkanlah sebagaimana Engkau
telah janjikan. Ya Allah berikanlah anugerah ampunan-Mu atas kesalahan
kami, dan kabulkan hujan untuk kami dan kelapangan rezeki.
Doa Ketika Hujan Telah Turun:
اللّهُمَّ اجْعَلهُ صَيِّبَاً هَنِيئاً نافعاً. اللهم حوالينا ولا علينا.ويقولون: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ
Ya Allah jadikan hujan yang menyejahterakan dan bermanfaat. Ya Allah
turunkan di sekeliling kami bukan adzab bagi kami. Dan jamaah
mengucapkan:” Hujan turun dengan karunia dan rahmat Allah.
Wallahu A’laa wa A’lam bishsawab…
Oleh: Ust Irsyad Syafar




Posting Komentar