*****
Saya kini mengalami hidup di alam kudeta yang ditopang Yahudi-Zionis-Salibis internasional. Merasakan betapa sangat berharganya sebuah proses demokrasi yang menghargai agama, kehormatan, kepemilikan harta, nyawa, dan masa depan bangsa. Di hadapan saya terbentang ragam kemunafikan, kebejatan, hingga arogansi Ana Rabbukumul A'la (Akulah Tuhan kalian yang tertinggi yang tak terkalahkan). Rakyat tidak boleh melakukan apapun, selain menjilat sepatu sang penguasa tertinggi.
Entahlah. Indonesia nampaknya akan memasuki gerbang diktator walau masih level malu-malu. Diktator dari generasi Megawati dan kronisnya, yang memanfaatkan sisi lemah Jokowi sebagai pemimpin raisopopo. Skenario yang nampak dan tidak bisa kita tampik adalah:
1. Lelang asset negara (hakikatnya milik rakyat) semurah-murahnya, demi kesejahteraan kroni-kroni. Maka ide menjual pesawat kepresidenan dengan alasan penghematan, adalah ide korupsi berkepanjangan yang tak tersentuh hukum. Saya ingat saat Megawati menjadi Presiden, bagaimana impor beras Vietnam itu menjadi bancakan penguasa dan partai pemenang saat itu. Apakah ini akan menjadi tren di era Jokowi?
2. Problem BBM dengan menaikkan harga, sama dengan mencekik leher orang-orang yang berpenghasilan di bawah 2 dollar. Plus jangan dilupakan, menggorok leher pengusaha UKM seperti saya yang belum memiliki deposito hasil korupsi di bank atau tidak mendapat jatah proyek pemerintah. UKM ini akan menjerit, karena daya beli masyarakat semakin berkurang. Apalagi di bisnis perbukuan, orang Indonesia akan menunda belanja buku daripada tidak belanja sembako. Ketika UKM mati, maka China dengan kekuatan modalnya siap menguasai. Maka target 2025, China diaspora di perantauan akan tercapai.
3. Menghembuskan isu SARA sebagai bulsit (penimbul situasi). Biasanya ini kerjaan intelejen dan diyakini, jika Hendropriono menjadi penasihat Presiden, isu SARA akan digoreng hingga rakyat Indonesia hangus terbakar dan melupakan ketidakmampuan Presiden dan konco-konconya, atau melupakan penjualan asset strategis, atau membiarkan pencurian SDA tak terbatas oleh asing. Jika memang sudah ada 80.000 izin SPBU baru di Indonesia, kita paham, berarti tak ada lagi yang tersisa atas nama Indonesia. Setelah kebijakan mineral dikuasai asing, semen milik asing, mungkin yang masih Indonesia hanya tiang benderanya yang dari bambu, itu pun jika masih ada.
4. Sejak kapan di alam demokrasi mengkritisi pemerintah dilarang? Ya sejak Jokowi menjadi anak manis yang muncul tiba-tiba di panggung politik Indonesia. Seakan hanya Jokowi yang tak tersentuh! Masa kita lupa kasus Bus Transjakarta? Juga korupsi pembatalan Monorel Jakarta yang triliunan itu? Apakah KPK-Kejaksaan-Polisi berani? Seakan ada kekuatan besar yang membentengi Jokowi dari sentuhan hukum, melebihi benteng rasis yang dibangun Israel di wilayah Palestina.
Inilah yang saya maksud, diktator pemikirian. Hal ini bukan mustahil. Mengapa polisi menindak tukang Nasgor yang mengenakan kaos berkalimat Tauhid sedangkan Gubernur Jateng mengenakan kaos penghinaan dibiarkan? Kita pun harus siap-siap, menerima kenyataan aksi premanisme akan menjadi kenyataan saat anda mencoba berbeda pendapat dengan Jokowi Lovers! Sama seperti di Mesir, para preman ini percaya diri melakukan aksi premanisme, sebab yakin tak akan tersentuh hukum. Bukankah ini diktator?
Akhirnya kita hanya bisa mengelus dada, apa dosa umat ini? Terus menerus dipimpin pemimpin ya nasib-ya nasib!
Saya kini mengalami hidup di alam kudeta yang ditopang Yahudi-Zionis-Salibis internasional. Merasakan betapa sangat berharganya sebuah proses demokrasi yang menghargai agama, kehormatan, kepemilikan harta, nyawa, dan masa depan bangsa. Di hadapan saya terbentang ragam kemunafikan, kebejatan, hingga arogansi Ana Rabbukumul A'la (Akulah Tuhan kalian yang tertinggi yang tak terkalahkan). Rakyat tidak boleh melakukan apapun, selain menjilat sepatu sang penguasa tertinggi.
Entahlah. Indonesia nampaknya akan memasuki gerbang diktator walau masih level malu-malu. Diktator dari generasi Megawati dan kronisnya, yang memanfaatkan sisi lemah Jokowi sebagai pemimpin raisopopo. Skenario yang nampak dan tidak bisa kita tampik adalah:
1. Lelang asset negara (hakikatnya milik rakyat) semurah-murahnya, demi kesejahteraan kroni-kroni. Maka ide menjual pesawat kepresidenan dengan alasan penghematan, adalah ide korupsi berkepanjangan yang tak tersentuh hukum. Saya ingat saat Megawati menjadi Presiden, bagaimana impor beras Vietnam itu menjadi bancakan penguasa dan partai pemenang saat itu. Apakah ini akan menjadi tren di era Jokowi?
2. Problem BBM dengan menaikkan harga, sama dengan mencekik leher orang-orang yang berpenghasilan di bawah 2 dollar. Plus jangan dilupakan, menggorok leher pengusaha UKM seperti saya yang belum memiliki deposito hasil korupsi di bank atau tidak mendapat jatah proyek pemerintah. UKM ini akan menjerit, karena daya beli masyarakat semakin berkurang. Apalagi di bisnis perbukuan, orang Indonesia akan menunda belanja buku daripada tidak belanja sembako. Ketika UKM mati, maka China dengan kekuatan modalnya siap menguasai. Maka target 2025, China diaspora di perantauan akan tercapai.
3. Menghembuskan isu SARA sebagai bulsit (penimbul situasi). Biasanya ini kerjaan intelejen dan diyakini, jika Hendropriono menjadi penasihat Presiden, isu SARA akan digoreng hingga rakyat Indonesia hangus terbakar dan melupakan ketidakmampuan Presiden dan konco-konconya, atau melupakan penjualan asset strategis, atau membiarkan pencurian SDA tak terbatas oleh asing. Jika memang sudah ada 80.000 izin SPBU baru di Indonesia, kita paham, berarti tak ada lagi yang tersisa atas nama Indonesia. Setelah kebijakan mineral dikuasai asing, semen milik asing, mungkin yang masih Indonesia hanya tiang benderanya yang dari bambu, itu pun jika masih ada.
4. Sejak kapan di alam demokrasi mengkritisi pemerintah dilarang? Ya sejak Jokowi menjadi anak manis yang muncul tiba-tiba di panggung politik Indonesia. Seakan hanya Jokowi yang tak tersentuh! Masa kita lupa kasus Bus Transjakarta? Juga korupsi pembatalan Monorel Jakarta yang triliunan itu? Apakah KPK-Kejaksaan-Polisi berani? Seakan ada kekuatan besar yang membentengi Jokowi dari sentuhan hukum, melebihi benteng rasis yang dibangun Israel di wilayah Palestina.
Inilah yang saya maksud, diktator pemikirian. Hal ini bukan mustahil. Mengapa polisi menindak tukang Nasgor yang mengenakan kaos berkalimat Tauhid sedangkan Gubernur Jateng mengenakan kaos penghinaan dibiarkan? Kita pun harus siap-siap, menerima kenyataan aksi premanisme akan menjadi kenyataan saat anda mencoba berbeda pendapat dengan Jokowi Lovers! Sama seperti di Mesir, para preman ini percaya diri melakukan aksi premanisme, sebab yakin tak akan tersentuh hukum. Bukankah ini diktator?
Akhirnya kita hanya bisa mengelus dada, apa dosa umat ini? Terus menerus dipimpin pemimpin ya nasib-ya nasib!



Posting Komentar