By: Nandang Burhanudin
****
Segala ragam peristiwa, selalu menghadirkan makna.
Setiap arus positif atau negatif, pasti meninggalkan pelajaran berharga yang
memberi nilai tersendiri bagi jiwa-jiwa konstruktif dan bukan destruktif.
Al-Qur'an saja secara lengkap memaparkan episode kelam
dari kehidupan manusia. Termasuk salah satunya episode kaum pendengki yang
terus melakukan regenerasi sepanjang
kehidupan manusia itu ada. Mulai dari Iblis, berlanjut kepada kisah
Qabil-Habil, kemudian kisah saudara-saudara Yusuf, dengkinya Iblis kepada Nabi
Yakub, dan lain sebagainya.
Bagi saya, para pendengki di level negara, parpol,
yayasan, hingga lingkup terkecil tetangga atau saudara, menginspirasi pelajaran
berharga yang mendatangkan pahala bagi siapapun yang menjadi objek kedengkian.
Tentu pahala berlipat ganda, selama disikapi dengan sabar dan takwa.
Pelajaran-pelajaran dari kaum pendengki itu adalah;
Pertama; Mereka tak kenal putus asa dan tak pernah
patah semangat, hingga objek yang menjadi sasaran kedengkian celaka atau
bangkrut.
Hal ini wajar. Karena dengki, hasud, iri, atau
dendam adalah ajaran abadi dari Setan dan Iblis. Bacalah kisah kegigihan Setan
yang tak kenal lelah merajuk untuk mencelakakan Nabi Adam atau Nabi Ya'kub.
Maka para pendengki memiliki energi lebih. Sebab energi pendengki dibackup
langsung oleh setan.
Kedua; Para pendengki sangat cerdik mencari celah
sekecil apapun untuk mendukung aksi dan mencelakakan objek yang ia dengki.
Bagi kaum pendengki, celah apapun adalah anugerah.
Seongok sampah atau barang tak berharga, pasti akan digunakan untuk
mencelakakan. Contoh terkini, saat Presiden Mursi berkuasa, Salafy Mesir
melalui Nader Bakkar mengatakan, "Masalah janggut masalah ibadah dan
merupakan hak semua warga. Maka polisi-polisi yang berjanggut harus diperhatikan
dan diberi ruang oleh pemerintah." Namun saat Salafy sukses membantu
kudeta, Nader Bakkar mengatakan, "Masalah janggut bisa dikesampingkan.
Toch rakyat sekarang butuh makan, pekerjaan, keamanan, dan stabilitas. Ini
harus diutamakan daripada masalah janggut."
Contoh lain adalah Hizbut Tahrir yang menebar
rekaman Mursi dengan terjemah yang salah. Di situs-situs HT Palestina-Mesir
(kemudian dikutip situs HTI) disebarkan berita, "Mursi, Presiden Muslim
yang jauh dari Islam." "Mursi Presiden Muslim yang anti Syariah dan
hijab wanita." "Perjuangan Syariat ala Ikhwan yang bersifat gradual,
sangat tidak tepat. Perjuangan syariat itu harus Kaaffah." Namun saat
sukses membantu kudeta, HT terdiam dan membiarkan pembantaian, pelecehan
terhadap kehormatan wanita, hingga penghancuran harta benda yang dilindungi
syariat.
Di level kecil, saya memiliki pengalaman bagaimana
sikap kaum pendengki itu begitu cerdik, licin, dan cenderung licik. Mereka
berani membentuk aliansi atau mengumpulkan dukungan, dengan melanggar
organ-organ resmi yang sah dan diakui pemerintahan. Para pendengki tentu tak
akan pernah merasa puas, sebelum objek yang ia dengki bangkrut dan binasa.
Modalnya adalah rajin kongkow dan sementara melupakan kasus-kasus negatif lain.
Asalkan target objek utama tercapai. Soal nanti mereka berceai berai lagi,
bukan masalah.
Ketiga; Kaum pendengki rela mengorbankan waktu,
tenaga, hingga harta.
Biasanya kaum pendengki adalah pengangguran,
penguasa yang sudah pensiun, pengusaha yang bangkrut, anak muda yang tak cacat
jiwa, atau orang-orang yang tak memiliki agenda nyata dalam hidupnya. Lain
halnya dengan orang-orang yang sibuk berkarya, berkreasi, atau bekerja dengan
agenda-agenda besar. Hampir tak ada celah untuk mendengki.
Baru tiga yang saya sampaikan. Contoh-contoh bisa
ditambahkan. Resep termanjur menghadapi para pendengki adalah;
senyum-salam-sabar. Namun jika sudah mendekati pada fitnah dan pemaksaan
kehendak, kita tak boleh menyerah untuk melawan.



Posting Komentar