*****
Facebook harusnya haram, jika mengikuti fatwa yang
mengharamkan demokrasi.
Facebook adalah bid'ah, jika mengikuti fatwa apapun
yang gak ada di masa Nabi, adalah bid'ah.
Facebook adalah makruh, jika membuka FB lebih sering
daripada membuka mushaf; atau lebih betah membaca status daripada ayat-ayat
Ilahi.
Semua fatwa ada konsekwensinya. Namun yang lebih penting
dari fatwa adalah tabiat-kebiasaan-dan watak
kita.
Tengoklah fatwa haram merokok. Ahli medis sudah
lama mengingatkan rokok=racun. Ruang merokok dibatasi dimana-mana. Di
bus,bandara, toilet, bahkan tempat umum: No smoking area! Smoking porhibitted
by law! Pabrik rokok pun sudah sangat jujur melabeli produknya dengan ungkapan;
"Merokok Membunuhmu!" Namun karena watak-budaya-dan kebiasaan sudah
menjadi hobi, pabrik rokok tetap meraup lapa yang tak pernah kering.
Janganlah sedikit-sedikit haram, bid'ah, kafir,
musyrik... 1 menit kemudian tanpa sadar kita menjadi penikmat sejati. Lalu
kemudian mencari dalih. Pepatah Arab mengatakan; "Jangan mengobral
larangan atas sesuatu yang kamu sendiri menjadi pelakunya. Karena setelah
melarang kemudian menjadi pelaku, dirimu teramat memalukan!"
Bagi saya, FB tidak haram. Mubah saja. Malah dnegan
FB bisa mengenal orang dan bersilaturrahmi bukan hannya dengan satu komplek,
malah dari liang semut sekalipun. Kebetulan niat aktif di FBnya baik-baik.
Allah pun mempertemukan dengan yang baik-baik. Rata-rata saat kopdar, real dan
memberi manfaat.
Sama dengan demokrasi. Tergantung
niat-watak-kebiasaan-dan hobi. Kalau memang watak-tabiat-kebiasaan-hobinya
menebar fitnah, maka di alam demokrasi waktu yang tepat. Mumpung hukum Allah
untuk praktik tajassus, menebar fitnah, berbicara binatang tidak diberlakukan
hukuman ta'zir. Walau di alam demokrasi sudah ada pasal pencemaran nama baik
dan fitnah. Nah sebaliknya, kalau memang baik, maka demokrasi momentum
memperjuangkan dan menebar kebaikan.
Prinsipnya, orang yang terpilih di masa Jahiliyah.
Maka ia akan menjadi yang terpilih di saat Islam tegak. Mutiara akan sama
kapanpun dan dimanapun. Namun pribadi yang busuk, akan tetap busuk baik di masa
Jahiliyah maupun di masa Islam. Nah di alam demokrasi, pribadi yang busuk lebih
nampak watak asli busuknya. Perhatikan kata-kata yang terucap. Dalil yang
dituliskan. Namun tak lama kemudian, terengah-engah menjulurkan lidah, dengan
kata-kata yang tak patut.
Bukankah malu jika kita mengharamkan demokrasi, FB,
sambil menikmati produk-produknya. Ditambah lagi menikmatinya sambil menghisap
rokok? Hanya biasanya tipe pribadi demikian, sudah putus urat malunya.



Posting Komentar