By: Nandang Burhanudin
*****
Daerah Bandung dan sekitarnya, kini dipenuhi spanduk
atau baliho calon. Di antara mereka ada yang sudah nyata tokoh utama Syiah
Indonesia. Ada pula pecinta aliran sesat dan pengusung Liberal. Bahkan tak
sedikit koruptor ulung. Karena lihai dan ulung itulah, ia bebas tak tersentuh
KPK. Uniknya, spanduk dan baliho tersebut sama sekali tak mengganggu warga. Termasuk spanduk dan baliho yang ditempel
di dekat masjid, yang sering digunakan aktivitas pengusung Syariah dan Khilafah
di sekitar Rancaekek.
"Seandainya kebencian elemen Islam terhadap
PKS dan kader-kadernya sama dengan kebencian terhadap Syi'ah-JIL-dan aliran
sesat, dipastikan Syi'ah-JIl-dan aliran sesat tidak akan marak dan
berkembangbiak. Namun mengapa Syi'ah-JIL-aliran sesat dibiarkan muncul dan
tumbuh membesar dan PKS diharamkan membesar? Jawabannya, karena kebencian
kepada PKS dibumbui penyakit hasad. PKS dianggap HT-Salafy sebagai gerakan
Islam yang abnormal. Sedangkan oleh JIL dan Islamphobia PKS diposisikan partai
a-nasionalis dan pengusung benih-benih Khilafah."
Bagi saya, PKS harus menjadi partai Nasionalis.
Namun nasionalisme bukan dalam pengertian Barat (Yahudi-Kristen). Tapi
nasionalisme yang berasaskan pada cinta-pengorbanan-totalitas membangun
negeri-dan integritas moral dengan menolak risywah (sogokan) berapapun
jumlahnya saat harus menjual Indonesia kepada asing. Nasionalisme yang bermakna
kemerdekaan.
Nasionalisme yang berawal dari swasembada
sandang-pangan-papan. Kemudian dilanjutkan pada kemandirian industri di segala
lini, terutama industri strategis dan industri alat utama sistem persenjataan.
Di dalam negeri, nasionalisme dimaknai dengan penertiban berbagai pelanggaran
dari hal terkecil hingga hal besar, siapapun pelakunya. Jika hal ini dilakukan.
Nasionalisme yang diusung PKS adalah nasionalisme yang bersyariah menuju
kebangkitan khilafah. Bukan nasionalisme abal-abal seperti JIL yang memaknai
nasionalisme dengan mengenakan batik, namun otak-pikiran-perasaan dan tindakan
menjadi budak Barat. Bukan pula syariah-khilafah yang sekedar tebar pesona namun
kering dari tebar aksi-aksi manfaat.
Jelas. Saat ini yang dibutuhkan rakyat dan umat
bukan mengadu konsep mana yang terbaik. Tapi terjun di area perlombaan untuk
mengukur daya jelajah kita dalam membangun Indonesia. Daya jelajah yang terus
terang membutuhkan daya tahan. Sebab perlombaan membangun Indonesia bukan 2
atau 3 babak. Godaan dan jebakannya pun bukan lagi ringan. Kena pukulan atau
terjatuh sesekali adalah hal lumrah. Di saat PKS semakin terlatih dan kadernya
memiliki daya jelajah dan daya tahan, dipastikan kader-kader PKS yang akan
memiliki daya ungkit paten di masa yang akan datang. Jangan sampai kita bangga
diri dengan konsep. Namun tak pernah mau terjun berlatih dan turun aktif dalam
perlombaan nyata. Ingatlah kebenaran itu hak mutlak milik Allah. Tugas kita
memperjuangkan puzzle-puzzle kebenaran yang terserak. Kini saatnya kita tak
boleh diam melawan kezhaliman dan aliran-aliran sesat!



Posting Komentar