****
Para pejuang antidemokrasi di Mesir, benar-benar buta
mata, hati, dan telinga. Mereka mengharamkan demokrasi, namun bersikap diam
atas pembantaian nyawa-nyawa yang tak berdosa. Jangankan empati, bawaannya
malah nyinyir gak karuan. "Salah sendiri demo! Demo kan haram! Secara
melawan pemerintahan yang sah! Makanya tinggalkan demokrasi! IM di MEsir-FIS di
AlJazair-AnNahdhah di Tunisia, harus
menghilangkan demokrasi!" Anehnya, mereka tak pernah satu kata pun
mengkritisi pemerintahan kudeta, yang merebut kekuasaan dengan cara-cara
kriminal.
Mereka tutup mata dan telinga. Saat pentolan
Liberal Mesir, mengatakan, "Karena penjara-penjara formal sudah penuh.
Maka saya mengusulkan militer dan polisi untuk menjadikan sekolah-sekolah dan
masjid-masjid sebagai penjara bagi anggota Ikhwanul Muslimin."
Saya kini paham. Demokrasi itu haram, karena di
beberapa negara pemenangnya adalah Ikhwanul Muslimin dan yang se-fikroh.
Membunuh dan merebut kekuasaan itu HALAL dengan mencuri sekalipun, selama yang
menjadi korban adalah anggota Ikhwanul Muslimin.
Sungguh, otak-otak antidemokrasi tutup mata. Bahwa
98 % senjata yang sekarang digunakan untuk membunuhi anggota Ikhwanul Muslimin
adalah senjata MADE IN ISRAEL. Tapi sekali lagi, selama yang menjadi korban
anggota IM, semua menjadi MUBAH dan HALAL. Pantas saja di Ramallah dibiarkan
mengibar-ngibarkan bendera, diperbolehkan mengkaji kitab-kitab Syaikh
Al-AlBani. Namun HAMAS di GAZA dikepung hingga mati.
Namun yakinlah, kudeta di MESIR, kini membuka
kedok-kedok palsu, mana pejuang sejati mana yang sekedar mencari sesuap nasi,
dan mana yang hanya cuap-cuap jualan ideologi.



Posting Komentar