By: Nandang Burhanudin
****
Hari kemarin saya diundang ke Sekolah Turki. Berjumpa
dengan mas'ul (kepala) asrama. Ia dipanggil Ustadz Nurman. Asli Albania.
Wajahnya ganteng deh. Kalau ke Indonesia, bisa jadi dikerubutin ibu-ibu muda,
apalagi yang tua.
Setelah perkenalan. Ustadz Nurman cerita bagaimana
AlBania dahulu adalah negeri Muslim di Balkan, yang terakhir memisahkan diri dari kekhilafahan Turki Utsmani. Lepas
dari Turki Utsmani, Uni Soviet menginvasi. Jadilah AlBania negeri komunis.
Masjid-masjid ditutup. Shalat dilarang. Segala yang berbau Islam pun
ditiadakan. Namun karena Islam telah menjadi budaya sejak 500 tahun bersama
kekhilafahan Utsmani. Komunis boleh jadi mencabut simbol-simbol Islam, tapi
tidak dengan spiritnya.
Usai merdeka, AlBania berbenah. Pemerintah pun
menggalakkan progam pemberdayaan SDM. Salah satunya belajar Islam dari negara-negara
Islam. Dikirimlah pelajar ke Saudi Arabia sebanyak 40 orang, ke Mesir, dan
beberapa negara Asia (hanya Indonesia tidak disebutkan).
Lima tahun kemudian. Mereka pulang. Apa gerangan
yang terjadi? Para imam-ustaz yang dikirim ke Saudi Arabia, berdakwah dengan
kasar dan sadis. Segala hal haram dan bid'ah. Masyarakat yang belum sembuh dari
racun-racun akut komunisme, kembali dikagetkan. "Ini bukan Islam yang
nenek-moyang kami kenal dahulu di zaman Utsmani. Islam model Saudi, sungguh
membuat siapapun akan lari." Akhirnya mereka tak lagi mempedulikan Islam.
Karena menurutnya, Islam yang dibawa terlalu rigid dan sadis.
Menurut Ustadz Nurman, Islam yang pas adalah Islam
yang wasathiyyah (moderat). Yaitu Islam yang menjaga keseimbangan antara
nilai-nilai ukhrowi, norma-norma tradisi, dan kemajuan materi-sains teknologi.
Islam adalah kebenaran. Namun memperjuangkan kebenaran Islam, adalah hal lain.
Perlu seni tersendiri. Seni dalam berdakwah inilah yang sekarang terkikis. Seni
itu dimiliki Wali Songo dan para saudagar yang berdakwah menyebarkan Islam ke
Nusantara. Termasuk dakwah yang dibawa Amru bin Ash ke Mesir. Jadi kini ada dua
negara yang kaya dengan seni-seni dakwah; Indonesia dan Mesir.
Tapi menurut saya, itu cerita lama. Lulusan Saudi
sekarang tampil lebih elegan. Tentu tidak semua orang. Ada juga yang dari Saudi
yang liberal. Sebagaimana lulusan Mesir sangat lengkap. Semua kembali kepada
pribadi dan dengan siapa ia bergaul. Namun tetap saya mengapresisasi Ustad
Nurman yang nampak tak kenal lelah. Padahal ia masih bujangan! Lihat
bujang-bujang Indonesia, malah sibuk Fesbukan!



Posting Komentar