By: Nandang BUrhanudin
****
Di level bawah, kader-kader PKS yang berjibaku dengan
masyarakat acap dijuluki dengan berbagai sebutan. Oleh mantan kader disebut,
"Kader Tertipu" "Fanatik Qiyadah", "Muayyid
Dungu". Nah oleh para HaTers, mereka dijuluki; "Orang-orang
Gila!" Seakan sudah kehabisan kata untuk menunjuk hidung kader-kader PKS
yang tetap solid dan tsiqoh dengan misi perjuangan.
Alih-alih berbalik membenci atau ramai-ramai keluar, malah para mantan kader
pun "berhenti sendiri untuk mengumbar aib" para qiyadah PKS. Terlebih
dengan sigap semua kader sepakat menyikapi dengan jurus AYTKTM; "Apapun
Yang Terjadi Kami Tetap Melayani!"
Saya mencoba mencari-cari apa makna gila
sebenarnya. Dalam hadits dari Anas yang diriwayatkan oleh Ibn Najjar
dikasahkan, "Pada suatu hari, Rasulullah Saw saat berkumpul bersama para
sahabat, lewatlah seorang pria gila. Para sahabat berkata, "Pria ini,
adalah pria gila."
Rasul Saw kemudian bersabda, “Hati-hati bicara.
Orang ini bukanlah gila. Orang gila adalah yang terus menerus berbuat maksiat.
Sedangkan ia sedang mendapat musibah (sakit)”.
Dalam riwayat lain baginda Rasul bersaba,
"Tahukah kalian orang gila seperti apa?" Sahabat menjawab,
"Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui."
Rasul Saw kemudian menjelaskan:”Orang gila ialah
orang yang berjalan dengan sombong, yang memandang orang lain dengan pandangan
yang merendahkan, yang keburukannya membuat orang tidak merasa aman dan
kebaikannya tidak pernah diharapkan. Itulah orang gila yang sebenarnya
(al-majnuun haqq al-majnuun)."
Melihat hadis ini saya meyakini, sifat-sifat orang
gila sejati adalah;
1. Sombong, angkuh.
2. Merasa diri paling baik dan memandang rendah
orang lain.
3. Tidak aman dengan keburukannya.
4. Kebaikannya tidak pernah diharapkan.
Mari kita perhatikan, dalam sistem pembinaan PKS
justru yang diajarkan adalah Mahabbah (cinta), bagaimana di PKS setiap kader
diwajibkan mencintai orang-orang terdekat; istri, anak, keluarga, tetangga,
alim ulama, hingga saudara senegara. Tidak ada doktrin melakukan pengeboman.
Bahkan doktrin mengkafirkan siapapun tidak pernah diajarkan.
Di PKS diajarkan untuk menggali potensi terbaik dan
meraih kinerja utama secara profesional, bersih, dan proporsional. PKS
mengajarkan kadernya untuk memiliki spesialisasi. Untuk kemudian sumbangsihnya
paling ditunggu di masyarakat.
PKS mengajarkan harmoni. Menjauhi perdebatan
furu'iyyah. Maka di PKS terdiri daru anasir seluruh ormas Islam. Ada dari NU,
Muhammadiyah, Persis, PUI, Al-Washilah, Al-Irsyad, dan lain-lain. Soal ibadah
dikembalikan kepada pemahaman masing-masing. PKS mengajak untuk bekerjasama
dalam masalah-masalah yang disepakati, namun toleran pada masalah-masalah yang
menjadi ciri khas masing-masing.
Di tataran kenegaraan. PKS tidak mengajarkan
kadernya untuk membenci Indonesia. Memang dulu di awal kehadirannya,
doktri-doktrin yang ada adalah thogut, kafir, musyrik, munafik. Namun seiring
waktu, para pendiri PKS semakin paham, Indonesia itu perlu kerja nyata yang
tidak sekedar caci maki atau menebar stigma. PKS pun tidak antinasionalisme.
Malah di gelombang ketiga, PKS bercita-cita menjadikan Indonesia sepenggal
Firdaus.
Jika melihat penjelasan hadis di atas, maka kita
akan bisa menarik kesimpulan siapa sebenarnya kader-kader yang dibina gerakan
yang mengatasnamakan Islam, namun produk-produk yang dihasilkan memiliki sifat;
sombong-angkuh-takabur, merasa diri paling benar-ahli surga-paling sesuai
sunnah Nabi, berjiwa pasif-kerja hanya memburuk-burukkan keadaan tanpa ada
kinerja nyata, dan kebaikannya sama sekali tidak ada bekasnya; Tidak punya
sekolah, tidak punya yayasan, tidak punya bisnis, tidak jelas kinerja. Keberadaannya
hanya sebagai benalu. Namun hobinya menggerogoti bangunan yang sudah dibangun
orang lain!
Saya berkesimpulan, orang gila adalah yang
berkinerja biasa namun berharap hasil luar biasa! Saya yakin anda memahaminya!
****

.jpg)

Posting Komentar