By: Nandang BUrhanudin
****
Menjelang tahun Pemilu 2014, PKS menjadi satu-satunya
Parpol berhaluan Islam yang didera ragam ujian dan pujian sekaligus. Apapun
berbau PKS, laris manis untuk dikomentari dan dicaci maki. Aktif di politik,
dituduh seperti babi. Pro aktif di sosial dianggap buang sial politik. Giat di
pemerintahan, dituduh PKeSisasi birokrasi. Hal yang tak terjadi terhadap partai manapun. Bila partai lain salah,
maka akan dianggap lumrah. Namun jika PKS terpeleset, maka diposisikan keset.
Ada hal menarik jika kita cermat mengamati. Yaitu
sikap PKS dan kader-kadernya menyikapi semua caci maki, bully, fitnah, hingga
kriminalisasi, seperti sikap anak kecil dalam menyikapi ragam rintangan yang
dihadapi. Saya menangkap kesan tersebut saat memperhatikan diskusi 3 tokoh PKS
(HNW, Anis Matta, Kang Aher) di acara Interupsi yang dipandu Host wanita
terkemuka, pengamat politik Burhanudin Muhtadi, dan disiarkan oleh Indonesiar
(31/1/14). Semua tuduhan dan syak wasangka ditanggapi dengan tenang, cool, dan
senyum.
Isu sentral yang ditanyakan, sangat mirip dengan
nyinyir dan nasihat berbau fitnah, baik dari kalangan ormas, parpol yang
malu-malu mendaftar di KPU, hingga aktivis mesos. Yaitu;
1. Isu Faksi Keadilan dan Kesejahteraan.
2. Isu Poligami.
3. Isu PekaEsisasi birokrasi.
4. Isu Korupsi.
5. Isu penggembosan oleh mantan kader-kader PKS.
Mengapa saya menyebut PKS seperti anak kecil?
Jawabannya sebagai berikut;
Pertama; PKS selalu optimis dan tak pernah mau
mengalah.
Didesak bahwa suara PKS diprediksi terjun ke 3%,
Ust. Anis Matta menjawab dengan positif, bahwa PKS selalu percaya dengan
takdir. Oleh karena itu PKS tetap optimis PKS 3 BESAR dan siap menghadirkan
nama yang sesuai dengan takdir Allah di Lauh Mahfuzh. Ungkapan yang
mengisyaratkan PKS siap mengisi kursi RI-2 bahkan RI-1. Optimisme yang bukang
omong kosong. Karena ditindaklanjuti dengan kerja dan kinerja.
Sikap ini sama dengan sikap anak kecil bukan?
Dimana saya melihat anak saya sendiri -atau anak-anak usia belum baligh- yang
tidak pernah putus asa tau berhenti berjuang, sebelum hasrat-keinginan-atau
tuntutannya terpenuhi. Anak-anak kecil selalu fokus. Sesekali menangis itu hal
biasa. Sesekali dimarahi itu bumbu kehidupan. Sikap ini yang sekarang dimiliki
PKS! Sikap anak kecil; tidak pernah DENDAM terhadap caci maki, fitnah, rekayasa
kasus, bahkan aib-aib yang diumbar keluar oleh mantan pendiri PK hingga oleh
para mantan kader.
Kedua; PKS selalu Fokus pada Target bukan pada
PROBLEMATIKA atau kesulitan.
Sebagai partai, diakui, PKS memiliki kesulitan
memasarkan kebijakan-kebijakan strategisnya terhadap semua kader. Kebijakan
partai-jamaah sebagai satu kesatuan, hingga kini belum dipahami sepenuhnya. Di
satu sisi, kebijakan Partai harus pandai mengolah bahasa dan menjaga mimik
wajah; bahwa PKS adalah partai yang tidak lagi ekslusif atau partai khusus
kader. Namun di sisi lain, bahasa-bahasa di dunia jamaah tarbiyyah menuntut
keistiqamahan.
Tentu kesulitan ini yang sekarang dimunculkan oleh
para HaTers PKS. Iklan-iklan terbaru acap membuat kader-kader di bawah tanda
tanya! Padahal dalam bahasa partai, iklan sebenarnya mencerminkan realitas
nyata bangsa Indonesia seperti di iklan; 3 model perempan (gadis tidak
berkerudung yang alay, ibu yang berkerudung menutup kepala yang hobi nonton,
gadis berkerudung rapih yang mengabdi). Ayahnya yang hobi baca harian KOmpas
(kita tahu siapa pemiliknya) dan anak muda kebanyakan. Plus lagu yang mirip
dengan nada; alamat palsunya Ayu Ting Ting. Untungnya, kader-kader PKS di bawah
sekalipun mentalnya seperti anak kecil. Mereka tidak fokus pada masalah, namun
fokus pada target. Fokus pada cita-cita besar, menyadarkan rakyat banyak dengan
kerja nyata bukan dengan doktrin pemahaman yang "belum" saatnya
disampaikan. Di poin ini saya memahami, bahwa tidak ada pertentangan antara
kebijakan partai dengan kebijakan tarbiyah. Justru melalui partai-lah,
masyarakat umum direkrut untuk kemudian dibina agar memiliki pemahaman yang
kuat. Sedangkan yang sudah berada dalam tarbiyah, diikat oleh mutaba'ah
(evaluasi) jama'i hingga pengurus ranting.
Ketiga; PKS, Mudah Melupakan Kegagalan di Masa
lalu.
PKS pernah gagal? Ya. Kekalahan HNW di Pemilu DKI
sempat menjadi cemoohan para HaTers. Namun dalam benak PKS seperti benaknya
anak kecil. Segera melupakan kekalahan. Bahasa kritikus PKS adalah; "Tokoh
utamanya saja kalah di Jakarta hanya untuk level Gubernur. Apalagi di level
Presiden!" Tapi HNW menyikapinya dengan mengatakan, "Di Jakarta saya
kalah, namun justru suara-suara did luar Jakarta, suara yang mengusulkan saya
menjadi Presiden malah unggul."
PKS pun berhasil melupakan ragam tragedi. Mulai
dari kasus Misbakhun yang dituduh korupsi kemudian bebas, kasus video porno Pak
Arifinto, hingga kasus terheboh; LHI. Air mata kepedihan disalurkan dalam aksi
bantuan bencana. Ratapan duka diinternalisasikan menjadi energi berdaa guna.
Karena PKS tahu, hanya orang-orang renta yang selalu bernostalgia dengan duka,
derita, dan nestapa. PKS tidak mengenal kata prihatin. Karena spirit PKS
menjadi otak, hati, dan tulang punggung untuk menjadikan Indonesia sepenggal
Firdaus.
Keempat; PKS Terbuka Memaafkan dan Tidak Dendam!
Silahkan digugling situs-situs resmi PKS tentang
Hizbut Tahrir, KH. Yusuf Supendi, atau para mantan kader. Bandingkan tulisan
dan bahasa tentang PKS dari HT, KH. Yusuf Supendi dan para mantan kader. Kita
bisa menemukan sendiri, bahwa PKS sangat terbuka membuka rekonsiliasi, menjaga
harmoni, dan memupus dendam.
Perilaku ini mirip dengan anak kecil. Saya waktu
kecil pernah dibohongi seorang bapak tua. Waktu itu saya dan kawan-kawan
disuruh berbaris. Diiming-imingi akan ditebaskan pohon tebu untuk semua. Namun
apa yang terjadi? Kami hanya disuruh menjilati pohon tebu. Tanpa pernah
merasakan manisnya. Saya yang berada di baris keempat, malah kebagian ludah dan
ingus anak-anak terdahulu. Namun hingga kinisaya tidak dendam.
Jadi ada baiknya! PKS dan seluruh kader, bersikap
seperti anak kecil. Menerima saat diingatkan! Fokus pada target! Tidak mudah
menyerah pasrah apalagi kalah! Juga tidak pernah mendendam, kepada siapapun
yang melakukan anarkisme (baik politik, maupun kata-kata). Itu jika memang
tujuan PKS dan kadernya, menjadi the third wave, bagi bangkitnya peradaban
Indonesia!



Posting Komentar