By: Nandang Burhanudin
****
Lazimnya kehidupan bersosial, jatuh cinta dan putus cinta itu hal
biasa. Di dunia dakwah pun demikian. Ada yang dahulu dikenal sangat
gigih mengajak kita bergabung. Ada juga sosok pementor yang penuh wibawa
menggiring kita untuk bersama. Ada yang setiap kali berpeluk mesra kala
bertemu. Namun kini orang-orang yang kita kenal itu berubah 180 derajat. Dari cinta menjadi benci. Bahkan tak sedikit para mentor yang meraih beragam julukan, kini memposisikan sebagai lawan.
Akan tetapi, karena ikatan cinta itu telah melekat sekian lama. Para
mantan itu tak bisa menghapus 100 % memori interaksinya. Muncullah
istilah mantan terindah dan mantan nggak genah. Mantan terindah
melakukan hijrah fisik. Namun pikiran, perasaan, dan kasih sayang masih
tetap bersatu -dalam hal ini- dengan PKS. Karakter tipe ini; konsisten
dalam bersikap. 'Uzlah dari segi fisik. Tetap aktif memberi nasihat dan
memberikan rambu-rambu bagi aktivis dakwah di PKS. Bagi mantan terindah,
PKS adalah aset. Perlu terus dijaga, dirawat, dan dibimbing. Jika ada
borok, harus diobati. Jika ada salah, harus terus dimuhasabah. Hal ini
yang saya baca dari status twitter DR. Daud Rasyid misalnya. Juga Prof.
Didin Hafidudin, KH. Ihsan Tanjung, dan lain-lain.
Mengapa engkau waktu itu putuskan cintaku
Dan saat ini engkau selalu ingin bertemu
Dan mengulang jalin cinta
Mau dikatakan apa lagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau disana aku disini
Meski hatiku memilihmu
Andai ku bisa ingin aku memelukmu lagi
Di hati ini hanya engkau mantan terindah
Yang selalu kurindukan
Namun ada mantan yang nggak genah. Istilah Jawa yang berarti, mantan
yang kurang baik sikapnya dan kurang patut komentarnya. Ibarat pasangan
suami istri yang sudah bercerai. Tapi masih hobi mengumbar aib mantan
istri atau mantan suaminya. Padahal ia yang paling pertama menjadi
penikmat, dari mulai status, jaringan, fasilitas, hingga hak privilage.
Justru yang saya rasa aneh bin ajaib. Para mantan ini menceraikan
dakwah setelah menikmati status sebagai anggota dewan atau
jabatan-jabatan yang ia raih tanpa modal. Lantas karena terjerat kasus
atau ada salah paham, ia pun mundur teratur dan say good bye. Kemudian
ia sibuk di luar memuntahkan unek-unek selama berada di PKS. "Wah PKS
bobrok! Pejabatnya borok! Kerjaannya ngorok! Saya sudah tidak cocok!" Ia
tak sadar, bahwa yang ia ungkapkan adalah PKS di masa dirinya. Jadi
sebenarnya ia sedang mengungkapkan aib dirinya sendiri. Karena ia tidak
tahu, PKS dan kadernya sudah move on!



Posting Komentar