By: Nandang Burhanudin
****
Tayangan Mata Najwa tadi malam, semakin meyakinkan saya bahwa
orang-orang baik yang tulus dan mau berjuang untuk negeri tanpa korupsi,
masih ada. Ada bupati Bantaeng, bupati Bojonegoro, dan Walikota
Bandung. Mungkin bisa ditambahkan bu Risma, walikota Surabaya.
Paling tidak, saya mencatat ada tiga tipe aleg dan birokrat. Hal
ini penting, agar kita tidak menjadi sosok fanatik hingga kita buta
saat ia salah atau khilaf. Pun kita tidak menjadi sosok yang antipati,
hanya karena kita tidak suka atau tidak simpati.
Pertama; Aleg dan Birokrat jujur itu terlihat dari tindakannya bukan dari ucapannya.
Rata-rata aleg dan birokrat yang prestatif, adalah aleg dan birokrat
yang lahir dari panggilan jiwa untuk mengabdi. Menjadi pejabat bukan
angan-angan dan bukan pula gila hormat, apalagi sekedar cari nikmat.
Mereka orang-orang yang sudah berada di puncak prestasi secara individu.
Namun terpanggil untuk mengabdi dan menjadi eksekutor program-program
pembangunan infrastruktur dan sosial yang selama ini banyak
diselewengkan. Mereka rela "kehilangan" kenikmatan privasi, demi daerah
dan masyarakat yang ia cintai. Maka tindakannya mencerminkan ketulusan.
Ia blusukan bukan untuk pencitraan. Nyaris tanpa dalih dan dalil yang ia
keluarkan.
Oleh karena itu, jika ada CAD yang bagi-bagi
materi (uang dsb). Siapapun dia dan dari partai manapun, dipastikan ia
akan menjadi cikal bakal ketidakjujuran. Walaupun jargonnya adalah
"bersih, anti korupsi, katakan tidak pada korupsi, hingga jargon; rela
mati asal tidak korupsi.
Kedua; Aleg dan Birokrat yang cintanya tulus nampak dari kepeduliaan dan perhatiannya bukan dari buih lisannya.
Kepedulian akan selalu dihadirkan saat seseorang memiliki kelebihan,
kendati ia bukan CAD atau birokrat sekalipun. Ternyata orang-orang yang
sukses dan selamat menjadi Aleg dan birokrat adalah mereka yang sejak
awal selalu terdepan dalam hal; peduli dan perhatian. Tentu peduli dan
perhatian bukan dari sumbangan orang lain. Namun berasal dari kocek dan
tabungan pribadi. Jika tidak memiliki, minimal ia mau mengadvokasi dan
menjadi pipa saluran kepedulian orang lain untuk warganya.
Omong kosong saat mulutnya bicara; "I love you!" Tapi ia sama sekali
tidak peduli. Malah saat terpilih jadi Aleg atau birokrat, ia malah
memperbanyak akses bisnis. Ridwan Kamil patut dijadikan contoh. Kendati
ia memiliki 3 kantor perusahaan. Ia melarang perusahaannya untuk
berbisnis di Bandung. Padahal sebagai kota yang amburadul, Bandung
sangat "basah" dengan proyek-proyek infrastruktur dan desain. Demikian
halnya dengan bupati Bantaeng. Ia malah "nombok". Hal yang sedikit
disadari oleh para Aleg dan Birokrat kebanyakan.
Ketiga; Aleg dan Birokrat yang amanah, akan nampak dari prasasti prestasinya, bukan dari air liur jargon kampanyenya.
Walkot Bandung, Bupati Bantaeng, Bupati Bojonegoro sepenuhnya sadar.
Menjadi bupati/walkot hanya 5 tahun. Namun ekspektasi rakyat terhadap
hadirnya pemimpin yang bersih-peduli-profesional sudah ada di ubun-ubun.
Rakyat tak lagi peduli dari partai mana, suku apa, atau putra daerah
atau bukan. Rakyat hanya peduli, siapa yang bisa meningkatkan taraf
hidup dan derajat mereka! Titik jebret!
Maka Aleg dan Birokrat
yang amanah, ia akan berpikir; pembangunan apa yang akan menjadi
prestasi dan prasasti setelah ia tidak menjabat? Sejelek-jelek Pak
Harto, rakyat merasakan; pembangunan itu nyata dan terasa. Rakyat tak
peduli Pak Harto dan Keluarga Cendana korupsinya menggurita. Namun saat
jalan mulus, harga-harga murah, irigasi lancar, jembatan kokoh, rakyat
kembali merindu sosok Pak Harto!
Maka pilihan para CAD dan
calon birokrat adalah, apakah siap menjadi teladan atau menjadi pemimpin
telatan? Siap jadi tuntunan atau menjadi tontonan? Maka mari pilih CAD
yang anda dan saya kenal! Supaya mudah mengingatkan di kala salah. Pun
menggugah di kala ia lengah! Mari menjadi pemilih yang bertanggungjawab!
Jangan sampai Golput, lalu kita meminta-minta jatah! Wal-'iyaadzu
Billah!



Posting Komentar